FANDOM


Tautan ke halaman Si Mata Malaikat lainnya


Si Mata Malaikat muncul begitu saja, tanpa latar belakang yang jelas. Terkecuali tujuan yang hanya satu, menantang Paksi Sakti Indrawatara pemimpin perguruan Elang Putih untuk beradu tanding.

Tujuannya adalah untuk mengetahui siapa diantara mereka yang dapat di katakan sebagai pendekar sesungguhnya. Semua lantaran kemasyuran nama besar Paksi Sakti Indrawatara di dalam dunia kependekaran.

Bencana Bergelimang Darah

Si Mata Malaikat (Pusaka)

Ilmu golok sakti

Si Mata Malaikat identik dengan bencana dan darah, kemanapun kakinya melangkah maka akan tercipta banjir darah dalam tiap jejaknya.

Tujuannya hanya satu, menguasai jagat ini dengan segala macam caranya. Salah satunya adalah menebar bencana dimanapun dia datang dan menginjakkan kaki.

Kehadiran pertamanya telah menciptakan tebaran darah di desa tempat Barda Mandrawata tinggal. Padahal tujuanya hanya satu, yaitu untuk bertarung dengan pemimpin perguruan persilatan yang kebetulan berada di desa tersebut.

Namun sebelum tujuaannya benar-benar dilakukan, tindakan awalnya adalah menebar rasa ketakutan di lingkungan barunya. Membunuhi penduduk yang tak jarang masalahnya hanya sepele saja.

Ketika segala tujuannya telah tercapai, ternyata langkahnya tak hanya berhenti begitu saja. Haus akan kekuasaan adalah sifat utamanya. Kekuasaan dengan memaksakan kehendak, kekuasaan yang dicapainya dengan jalan menebarkan maut dan membanjiri darah tiap jengkal tanah yang didatangi dan ditinggalinya.

Si Mata Malaikat tak segan-segan membantai tiap manusia yang mencoba menentang dan melawannya. Sepertinya nyawa memang tak berarti bagi dirinya. Dan memang tak pernah memilih dan memilah siapa yang akan dijadikan korban. Yang terpenting bagianya adalah selalu dapat berkuasa.

Ini tak terjadi satu kali, di kebangkitannya dari kematiannyapun demikian adanya. Daerah yang dilewati dan didatanginya penuh dengan gelimangan darah dan nyawa para penduduk yang tak berdosa. Bencana yang tercipta dari tangannya.

Kematian dan Kebangkitan

Dalam sesumbar terakhirnya di kematiannya yang ketiga, Si Mata Malaikat masih sempat meninggalkan jejak untuk peluang kebangkitannya kembali dari kematian. Di kematiannya kali ini dia masih sempat berteriak lantang, 

Quote1 Tunggulah Rosiana, Aku akan kembali lagi dan pasti kembali ! ...Quote2
― Si Mata Malaikat[src]

Kematian dan kebangkitan yang pertama

Kematian yang pertama, mati karena terbunuh dalam perang tanding dengan Si Buta Dari Goa Hantu di lembah Jagat Pangeran. Kemudian kepalanya dipenggal dan dipisahkan dengan raganya, lantaran kepalnya dibawa oleh Si Maung Lugai untuk memenuhi persyaratan penerimaan cinta Marni Dewiyanti.

Kebangkitan yang pertama, dalam kondisi tanpa kepala, penduduk menguburkan tubuh Si Mata Malaikat di lembah Jagat Pangeran. Berselang sepuluh tahun kemudian, tubuh tanpa kepala ini mengalami kebangkitan akibat sambaran petir yang tepat mengenai makam Si Mata Malaikat. Lantas tubuh tanpa kepala itu bangkit dari kematiaannya dengan tujuan membalas dendam pada musuh utamanya, Si Buta Dari Goa Hantu.

Kematian dan kebangkitan yang kedua

Kematian yang kedua, setelah kebangkitan pertamanya, Si Mata Malaikat akhirnya kembali dapat bertarung dengan Si Buta Dari Goa Hantu, namun pertarungan kali inipun Si Mata Malaikat akhirnya mati tersambar petir ketika pertarungan dengan Barda Mandrawata sedang berlangsung. Bahkan pada kematiannya kali ini tubuhnya hancur menjadi debu.

Kebangkitan yang kedua, di malam hari setelah kematiannya yang kedua, di lembah Jagat Pangeran, tubuh Si Mata Malaikat yang telah hancur menjadi debu, mengalami keganjilan. Angin yang tiba-tiba menderu seperti sedang mengumpulkan kembali sebaran debu tubuh Si Mata Malaikat. Di bawah sinar bulan malam itu, debu tubuh yang telah hancur mengalami kebangkitannya yang kedua kalinya. Bahkan dari kebangkitan ini, Si Mata Malaikat mengalami perkembangan ilmu yang cukup pesat, dia sekarang dapat menguasai musuhnya dengan kekuatan hipnotis. Lalu dengan ilmu barunya inilah kembali dia menebar maut di tiap wilayah yang di datanginya. Meskipun sasaran utamanya tetaplah mencari Si Buta Dari Goa Hantu untuk menuntaskan dendamnya.

Kematian yang ketiga

Kematian yang ketiga, setelah kebangkitannya kali ini, dengan ilmu barunya, Si Mata Malaikat harus kembali menemui kematiannya. Namun, kematiannya kini tidak melalui tangan musuh besarnya, Si Buta Dari Goa Hantu, melainkan oleh sepasang guru dan murid; Uwak Kiwul dan Surti, dengan ilmunya Pamungkas Asmara. Dengan ilmu ini Si Mata Malaikat mengalami kematiannya dalam kobaran api yang membakarnya. Kematian kali inipun masih meninggalkan peluang untuk mengalami kebangkitannya kembali di kemudian hari.

Community content is available under CC-BY-SA unless otherwise noted.