FANDOM


Line 3: Line 3:
   
 
Tiniharuka atmaharu kevala tapa'im dvara jagrta huna sakcha.|Tubuh yang berpendar|Tira: Perkara Pertama}}
 
Tiniharuka atmaharu kevala tapa'im dvara jagrta huna sakcha.|Tubuh yang berpendar|Tira: Perkara Pertama}}
  +
Sembilan bersaudara penjaga Gua Naga yang berada di Planet Shaver. Memiliki kemampuan yang berbeda-beda, namun semuanya mampu berubah menjadi naga.
  +
  +
Mereka merasuk dan memberi kekuatan baru pada Tira yang berhasil menjebol seluruh Pintu Naga dan memberikan pusaka pada putra mahkota kerajaan Lerkerkop.
  +
== Tira: Perkara Pertama ==
 
Susie mengikuti semua instruksi yang ditulis di dalam artikel tersebut. Ia menggelar karpet di lantai, memadamkan lampu kamar, dan menyalakan beberapa lilin beraroma yang, seperti yang tertulis di artikel tersebut, 'dapat menyejukkan pikirannya'.
 
Susie mengikuti semua instruksi yang ditulis di dalam artikel tersebut. Ia menggelar karpet di lantai, memadamkan lampu kamar, dan menyalakan beberapa lilin beraroma yang, seperti yang tertulis di artikel tersebut, 'dapat menyejukkan pikirannya'.
   
Line 20: Line 24:
   
 
Mulanya kabut tersebut bergerak perlahan, lalu semakin cepat dan akhirnya berhenti tepat satu inci di depan wajah Susie.
 
Mulanya kabut tersebut bergerak perlahan, lalu semakin cepat dan akhirnya berhenti tepat satu inci di depan wajah Susie.
+
{{Quote|Yang terpilih.|Tubuh yang berpendar|Tira: Perkara Pertama}}
"Yang terpilih."
 
   
 
Sebuah suara menggema dari sekeliling Susie. Gadis malang itu menengok ke kanan dan ke kiri untuk mencari sumber suara. Ia ingin berteriak meminta tolong, namun suaranya tidak keluar.
 
Sebuah suara menggema dari sekeliling Susie. Gadis malang itu menengok ke kanan dan ke kiri untuk mencari sumber suara. Ia ingin berteriak meminta tolong, namun suaranya tidak keluar.
Line 59: Line 63:
   
 
Pria itu menjentikkan jari. Seketika, pandangan Susie berputar tak karuan. Gadis itu terhempas ke atas sebuah permukaan yang keras. Ia mencoba melawan, tapi kesadarannya perlahan-lahan menghilang.
 
Pria itu menjentikkan jari. Seketika, pandangan Susie berputar tak karuan. Gadis itu terhempas ke atas sebuah permukaan yang keras. Ia mencoba melawan, tapi kesadarannya perlahan-lahan menghilang.
* Sembilan bersaudara penjaga Gua Naga yang berada di Planet Shaver. Memiliki kemampuan yang berbeda-beda, namun semuanya mampu berubah menjadi naga.
 
 
* Mereka merasuk dan memberi kekuatan baru pada Tira yang berhasil menjebol seluruh Pintu Naga dan memberikan pusaka pada putra mahkota kerajaan Lerkerkop.
 

Revision as of 12:20, June 2, 2020

Quote1 Ma yasa pranima mero saktima vivasa gardak.

Maile nau dreganako bahaduri tapa'inla'i di'e jo yogya khan.

Tiniharuka atmaharu kevala tapa'im dvara jagrta huna sakcha.Quote2

― Tubuh yang berpendar[src]

Sembilan bersaudara penjaga Gua Naga yang berada di Planet Shaver. Memiliki kemampuan yang berbeda-beda, namun semuanya mampu berubah menjadi naga.

Mereka merasuk dan memberi kekuatan baru pada Tira yang berhasil menjebol seluruh Pintu Naga dan memberikan pusaka pada putra mahkota kerajaan Lerkerkop.

Tira: Perkara Pertama

Susie mengikuti semua instruksi yang ditulis di dalam artikel tersebut. Ia menggelar karpet di lantai, memadamkan lampu kamar, dan menyalakan beberapa lilin beraroma yang, seperti yang tertulis di artikel tersebut, 'dapat menyejukkan pikirannya'.

Gadis itu kemudian duduk di atas karpet. Ia menyilangkan kaki dan memposisikan tangan di atas kedua lutut agar tubuhnya seimbang.

Susie menarik napas dan menghela sebanyak tiga kali. Aroma lilin mengalir ke dalam hidungnya. Ia mencoba untuk memusatkan pikiran terhadap hal-hal yang baik; tentang ayah dan ibunya, tentang kegiatan-kegiatannya, dan juga tentang Tira.

Kemudian, suasana pun hening. Susie tidak mendengar hal lain kecuali bunyi udara yang mengalir keluar dan masuk dari hidungnya. Ia merasakan jantungnya berdetak begitu pelan, semakin melambat, dan akhirnya detak itu berhenti.

Susie merasakan tubuhnya terangkat ke atas, melawan segala hukum fisika mengenai gravitasi. Tangannya berusaha merasakan dinginnya keramik lantai kamar tempat ia tadi duduk, namun Susie tidak berhasil menyentuh apa pun di bawahnya.

Panik. Takut. Susie pun membuka mata dan melihat kegelapan yang pekat. Sekujur tubuhnya memancarkan cahaya remang-remang. Gadis itu menatap ke depan, ke arah gumpalan kabut hitam yang bergerak-gerak tidak keruan ke arahnya.

Mulanya kabut tersebut bergerak perlahan, lalu semakin cepat dan akhirnya berhenti tepat satu inci di depan wajah Susie.

Quote1 Yang terpilih.Quote2
― Tubuh yang berpendar[src]

Sebuah suara menggema dari sekeliling Susie. Gadis malang itu menengok ke kanan dan ke kiri untuk mencari sumber suara. Ia ingin berteriak meminta tolong, namun suaranya tidak keluar.

Ketika gadis itu menghadap ke arah kabut lagi, kabut tersebut menerjangnya dengan cepat bak ombak laut yang bergulung dan pecah di tengah badai.

Susie pun tersentak ke belakang. Ia membuka mata dan melihat ke sekeliling. Ia masih di kamarnya; utuh, selamat, tidak terluka. Gadis yang ketakutan itu buru-buru mematikan lilin, menggulung karpet, dan merangkak ke atas tempat tidur. Ia bersembunyi di dalam selimut dengan tubuh yang gemetar hebat dari ujung kepala hingga ujung kaki.

Walau terjangan kabut tersebut terjadi begitu cepat, Susie sempat sekilas melihat sesuatu yang tidak akan pernah ia lupakan; sebuah bayangan tidak berwajah, berdiri di tengah-tengah kabut tersebut, mengulurkan tangannya ke arah Susie.

Susie terbangun. Dingin. Kegelapan tak berujung. Ia tengah duduk dalam posisi meditasi, namun bukan di dalam kamarnya.

Susie menundukkan kepala dan melihat bahwa tubuhnya mengambang beberapa senti di . Ketika ia mendongak, ia melihat sembilan orang keluar satu per satu dari balik sembilan batu besar sambil mengucapkan serangkaian kalimat yang diulang-ulang.

Tubuh mereka berpendar, memancarkan cahaya jingga di dalam kegelapan. Mereka semua berdiri membentuk setengah lingkaran di depan sebuah altar.

"Ma yasa pranima mero saktima vivasa gardak."

Hanya serangkaian kata-kata itu yang berhasil ditangkap oleh telinga Susie. Kesembilan orang yang mengenakan jubah putih itu mengumandangkan kalimat tersebut semakin keras.

Sebuah sensasi panas menjalar di permukaan kulit tangan Susie. Panas itu merambah ke seluruh tubuh Susie hingga akhirnya ia merasa seperti tengah dibakar di atas sebuah tungku api.

Seluruh tulangnya terasa seperti dipatahkan satu per satu. Ia meronta-ronta kesakitan dengan mata yang terpejam. "AHH!" ia spontan menjerit kesakitan.

"Jangan melawan." Sebuah suara menggema di dalam telinganya.

Sontak mata Susie seperti dibuka secara paksa. Ia melihat seorang pria tua dengan rambut putih sebahu dan kumis yang tebal tengah berdiri di hadapannya. Wajah pria tersebut penuh dengan bintik-bintik dan kerutan, namun yang menarik perhatian Susie adalah sebuah luka gores yang melintang dari ujung kiri atas wajahnya hingga ujung kiri bawah.

Pria itu terkesan marah. Ia mengangkat tangannya ke depan wajah Susie.

"Apa yang kalian mau dariku?!" seru Susie.

"Tidurlah."

Pria itu menjentikkan jari. Seketika, pandangan Susie berputar tak karuan. Gadis itu terhempas ke atas sebuah permukaan yang keras. Ia mencoba melawan, tapi kesadarannya perlahan-lahan menghilang.

Community content is available under CC-BY-SA unless otherwise noted.