FANDOM


Line 6: Line 6:
   
 
== Tira: Perkara Pertama ==
 
== Tira: Perkara Pertama ==
Mereka (Susi & Dhara) berdua berpisah di gerbang depan. Dhara pulang dengan berjalan kaki karena rumahnya terbilang cukup dekat dengan kampus. Gadis itu melambaikan tangan ke arah Susie sebelum berjalan menjauh menyusuri trotoar dan akhirnya menghilang dari jarak pandang Susie.
+
"Aku pulang!" seru Susie sesampainya ia di rumah. Tidak ada yang menjawab. Tentu saja. Ayah dan Ibu sudah berangkat rupanya. Kini ia sendiri, lagi, di rumahnya. Jam dinding menunjukkan pukul setengah delapan malam.
   
Susie menoleh ke langit di atasnya. Semburat warna jingga menghiasi langit sore yang berwarna ungu. Burung-burung berterbangan. Angin sore berembus, mengundang ranting-ranting pohon untuk menari dan menggerisik tenang. Gadis itu sekali lagi melirik jam tangannya yang kini menunjukkan pukul enam sore lewat lima belas menit.
+
Gadis itu melepas sepatu, kemudian menekan sakelar lampu ruang tamu. Sebuah lampu gantung megah menyala, menyinari ruangan luas tersebut. Ruang tamu keluarga Susie terlihat seperti sampul majalah yang sempurna. Sofa-sofanya berwarna krem,dihiasi ornamen berbentuk daun dari bahan sutra hijau halus.
 
Sebentar lagi, sore akan berganti menjadi malam. Dan Susie ingin mencari tahu apakah kegelapan malam akan memanggil untuk melaksanakan tugasnya.
 
 
"Aku pulang!" seru Susie sesampainya ia di rumah.
 
Tidak ada yang menjawab. Tentu saja. Ayah dan Ibu sudah berangkat rupanya. Kini ia sendiri, lagi, di rumahnya.
 
Jam dinding menunjukkan pukul setengah delapan malam.
 
 
Gadis itu melepas sepatu, kemudian menekan sakelar lampu ruang tamu. Sebuah lampu gantung megah menyala, menyinari ruangan luas tersebut.
 
Ruang tamu keluarga Susie terlihat seperti sampul majalah yang sempurna. Sofa-sofanya berwarna krem,dihiasi ornamen berbentuk daun dari bahan sutra hijau halus.
 
   
 
Mereka disusun dengan rapi di sekitar sebuah meja kopi yang terbuat dari kaca dengan setumpuk majalah dan sebuah vas berisikan bunga mawar di atasnya Tirai yang menutupi jendela ruangan tersebut berbahan linen, berwarna putih bersih, seperti tidak pernah tersentuh oleh siapa pun atau terkotori oleh debu. Terdapat sebuah televisi LCD besar di tengah dua rak buku, di atas sebuah perapian.
 
Mereka disusun dengan rapi di sekitar sebuah meja kopi yang terbuat dari kaca dengan setumpuk majalah dan sebuah vas berisikan bunga mawar di atasnya Tirai yang menutupi jendela ruangan tersebut berbahan linen, berwarna putih bersih, seperti tidak pernah tersentuh oleh siapa pun atau terkotori oleh debu. Terdapat sebuah televisi LCD besar di tengah dua rak buku, di atas sebuah perapian.
   
Foto keluarga Susie ada yang digantung di dinding, ada juga yang dibingkai dengan bingkai foto emas yang sangat mahal.
+
Foto keluarga Susie ada yang digantung di dinding, ada juga yang dibingkai dengan bingkai foto emas yang sangat mahal. "Halo?" Tidak ada yang menjawab. Bagus, pikir Susie. Aku benar-benar sendirian. Ia mengunci pintu depan rumahnya rapat-rapat, menutup tirai semua jendela, dan memastikan tidak ada yang menjadi saksi akan apa yang hendak ia lakukan.
"Halo?"
+
Tidak ada yang menjawab. Bagus, pikir Susie. Aku benar-benar sendirian. Ia mengunci pintu depan rumahnya rapat-rapat, menutup tirai semua jendela, dan memastikan tidak ada yang menjadi saksi akan apa yang hendak ia lakukan. Gadis itu kemudian melempar ranselnya ke atas sofa dan berjalan ke arah rak buku yang terletak di sebelah kanan televisi.
+
Gadis itu kemudian melempar ranselnya ke atas sofa dan berjalan ke arah rak buku yang terletak di sebelah kanan televisi. Susie berdiri sebentar di depan rak buku tersebut sebelum akhirnya ia menarik keluar sebuah buku bersampul kulit cokelat.
Susie berdiri sebentar di depan rak buku tersebut sebelum akhirnya ia menarik keluar sebuah buku bersampul kulit cokelat.
 
   
 
Gadis itu mundur beberapa langkah. Rak buku tersebut, seperti yang biasanya Susie lihat di film-film horor, membuka layaknya sebuah pintu dan menyingkap sebuah brankas yang tertanam di dinding di baliknya.
 
Gadis itu mundur beberapa langkah. Rak buku tersebut, seperti yang biasanya Susie lihat di film-film horor, membuka layaknya sebuah pintu dan menyingkap sebuah brankas yang tertanam di dinding di baliknya.
 
Brankas tersebut dikunci oleh semacam sistem pengaman yang berbasis pengenalan suara. Alat pengaman tersebut berbentuk kotak dengan sebuah layar LCD yang menunjukkan frekuensi suara yang terdeteksi dan sebuah fingerprint recognizer di sampingnya.
 
Brankas tersebut dikunci oleh semacam sistem pengaman yang berbasis pengenalan suara. Alat pengaman tersebut berbentuk kotak dengan sebuah layar LCD yang menunjukkan frekuensi suara yang terdeteksi dan sebuah fingerprint recognizer di sampingnya.
   
Sebuah produk dari Thetatech, tentu saja. Benda itu mempunyai logo Thetatech yang diukir di depannya dengan serangkaian tracking number yang menunjukkan benda tersebut asli buatan perusahaan Ayah Susie.
+
Sebuah produk dari Thetatech, tentu saja. Benda itu mempunyai logo Thetatech yang diukir di depannya dengan serangkaian tracking number yang menunjukkan benda tersebut asli buatan perusahaan Ayah Susie. Susie tidak bisa menahan diri untuk tidak menyengir lebar.
Susie tidak bisa menahan diri untuk tidak menyengir lebar. Bagian inilah yang paling ia tunggu-tunggu di setiap hari yang ia jalani. Bagian inilah yang selalu bisa melepaskan penatnya setiap kali ia menjalani hari yang menyebalkan. Tidak peduli seberapa buruk hari yang ia jalani, tidak ada yang dapat menandingi kesenangan yang ia dapat dari menyamar menjadi seorang Tira dan memberantas kejahatan.
+
  +
Bagian inilah yang paling ia tunggu-tunggu di setiap hari yang ia jalani. Bagian inilah yang selalu bisa melepaskan penatnya setiap kali ia menjalani hari yang menyebalkan. Tidak peduli seberapa buruk hari yang ia jalani, tidak ada yang dapat menandingi kesenangan yang ia dapat dari menyamar menjadi seorang Tira dan memberantas kejahatan.
  +
  +
Susie mengambil satu langkah ke depan dan mencondongkan kepalanya ke arah brankas tersebut. "Tango. India. Romeo. Alfa," gadis itu berujar. Layar pada alat pengaman tersebut menunjukkan gelombang suara yang terdeteksi, lalu berubah menjadi warna hijau dan brankasnya pun terbuka.
   
Susie mengambil satu langkah ke depan dan mencondongkan kepalanya ke arah brankas tersebut. "Tango. India. Romeo. Alfa," gadis itu berujar. Layar pada alat pengaman tersebut menunjukkan gelombang suara yang terdeteksi, lalu berubah menjadi warna hijau dan brankasnya pun terbuka.
 
 
Di dalam brankas, terdapat sebuah ransel berwarna hitam. Susie mengambil ransel tersebut dan merogoh saku paling depannya. Ia mengeluarkan sebuah radio kecil berbentuk persegi panjang dengan pengeras suara dan skala frekuensi dalam FM dan AM di bagian depannya.
 
Di dalam brankas, terdapat sebuah ransel berwarna hitam. Susie mengambil ransel tersebut dan merogoh saku paling depannya. Ia mengeluarkan sebuah radio kecil berbentuk persegi panjang dengan pengeras suara dan skala frekuensi dalam FM dan AM di bagian depannya.
   
Radio tersebut juga dilengkapi antena yang Susie modifikasi sendiri untuk mendapatkan resepsi sinyal yang lebih baik.
+
Radio tersebut juga dilengkapi antena yang Susie modifikasi sendiri untuk mendapatkan resepsi sinyal yang lebih baik. Susie menyetel radio itu ke frekuensi yang digunakan untuk panggilan darurat ke operator di kantor pusat polisi. Ia menaik-turunkan skala, berusaha mencari frekuensi yang bisa menangkap percakapan antar penelepon dan operator.
Susie menyetel radio itu ke frekuensi yang digunakan untuk panggilan darurat ke operator di kantor pusat polisi. Ia menaik-turunkan skala, berusaha mencari frekuensi yang bisa menangkap percakapan antar penelepon dan operator.
+
"Halo?!" Sebuah suara terdengar dari pengeras suara. Mata Susie membelalak. Jackpot! pikirnya. Gadis itu mendekatkan radio yang ia pegang ke telinganya, berusaha menyimak dengan baik.
+
"Halo?!" Sebuah suara terdengar dari pengeras suara. Mata Susie membelalak. Jackpot! pikirnya. Gadis itu mendekatkan radio yang ia pegang ke telinganya, berusaha menyimak dengan baik. "Kepolisian Kota. Apa keadaan darurat Anda?" tanya sang operator dari sisi lain.
"Kepolisian Kota. Apa keadaan darurat Anda?" tanya sang operator dari sisi lain.
 
 
"Tolong, Pak. Saya mohon.
 
"Tolong, Pak. Saya mohon.
   
Ada tiga orang perampok yang hendak masuk ke sini. Mereka mengancam akan membunuh saya jika saya tidak membukakan pintu." Suara sang penelepon sangat pelan, hampir menyerupai bisikan panik yang disertai dengan isakan tangis.
+
Ada tiga orang perampok yang hendak masuk ke sini. Mereka mengancam akan membunuh saya jika saya tidak membukakan pintu." Suara sang penelepon sangat pelan, hampir menyerupai bisikan panik yang disertai dengan isakan tangis. "Bu, tolong beritahu di mana lokasi Ibu sekarang."
"Bu, tolong beritahu di mana lokasi Ibu sekarang."
+
 
"S-saya di Jalan Mer-merpati, Pak. No-nomor tiga belas. Bar Silver Bell," Suara sang penelepon terdengar bergetar. Sayup-sayup, Susie bisa mendengar suara pintu digedor dan suara orang yang berteriak dari luar. Suara-suara tersebut diikuti oleh desas-desus panik dari segelintir orang.
 
"S-saya di Jalan Mer-merpati, Pak. No-nomor tiga belas. Bar Silver Bell," Suara sang penelepon terdengar bergetar. Sayup-sayup, Susie bisa mendengar suara pintu digedor dan suara orang yang berteriak dari luar. Suara-suara tersebut diikuti oleh desas-desus panik dari segelintir orang.
   
Sang operator berusaha menenangkan sang penelepon. "Baik, unit kami akan segera datang ke sana dalam jangka waktu sepuluh menit."
+
Sang operator berusaha menenangkan sang penelepon. "Baik, unit kami akan segera datang ke sana dalam jangka waktu sepuluh menit." "Saya tidak punya waktu sebanyak itu!" Isak tangis sang penelepon semakin kencang. Aku harus ke sana, pikir Susie.
"Saya tidak punya waktu sebanyak itu!" Isak tangis sang penelepon semakin kencang.
+
Aku harus ke sana, pikir Susie.
 
 
Susie mengingat dengan baik alamat yang sang penelepon ucapkan. Ia meletakkan radionya di atas meja kopi. Gadis itu mengeluarkan setelan dengan bagian atas tak berlengan yang tersambung dengan celana pendek berwarna merah marun.
 
Susie mengingat dengan baik alamat yang sang penelepon ucapkan. Ia meletakkan radionya di atas meja kopi. Gadis itu mengeluarkan setelan dengan bagian atas tak berlengan yang tersambung dengan celana pendek berwarna merah marun.
   
Line 44: Line 43:
 
Susie kemudian memandangi pantulan dirinya sendiri di layar hitam televisi. Malam ini, sama seperti setiap malam lainnya, ia bukan lagi Susie.
 
Susie kemudian memandangi pantulan dirinya sendiri di layar hitam televisi. Malam ini, sama seperti setiap malam lainnya, ia bukan lagi Susie.
   
Ia adalah Tira, sang pembela kebenaran.
+
Ia adalah Tira, sang pembela kebenaran. Tira membuka tasnya. Di dalamnya ia mendapati senjatanya telah tersusun rapi. Ada tongkat elektrik (tongkat besi yang terdiri dari pegangan dan batang berkawat). Kawatnya terlilit dengan sangat rapi pada bagian luar tongkat dan memiliki ujung tajam. Pada bagian pegangan terdapat smart lock yang hanya bisa dibuka dengan sidik jari milik Tira.
Tira membuka tasnya. Di dalamnya ia mendapati senjatanya telah tersusun rapi.
 
Ada tongkat elektrik—tongkat besi yang terdiri dari pegangan dan batang berkawat. Kawatnya terlilit dengan sangat rapi pada bagian luar tongkat dan memiliki ujung tajam. Pada bagian pegangan terdapat smart lock yang hanya bisa dibuka dengan sidik jari milik Tira.
 
   
 
Jika smart lock dibuka, maka kawat akan langsung dialiri listrik dari dalam bagian pegangan. Dengan memencet tombol di dekat smart lock, Tira dapat menghasilkan impuls listrik sehingga listrik dapat terhantar ke udara melalui ujung kawat dan mengenai target di depan Tira.
 
Jika smart lock dibuka, maka kawat akan langsung dialiri listrik dari dalam bagian pegangan. Dengan memencet tombol di dekat smart lock, Tira dapat menghasilkan impuls listrik sehingga listrik dapat terhantar ke udara melalui ujung kawat dan mengenai target di depan Tira.
  +
 
Lalu ada sarung tangan anti panas dan listrik. Sarung tersebut dapat menangkal berbagai serangan dalam kondisi panas dan teraliri arus listrik. Berbagai pisau lipat dan benda-benda tajam lainnya juga sudah tersusun rapi. Ada juga tali rotan yang digunakan untuk mencambuk.
 
Lalu ada sarung tangan anti panas dan listrik. Sarung tersebut dapat menangkal berbagai serangan dalam kondisi panas dan teraliri arus listrik. Berbagai pisau lipat dan benda-benda tajam lainnya juga sudah tersusun rapi. Ada juga tali rotan yang digunakan untuk mencambuk.
   
 
Tira bergegas mengepak tas ransel berisi senjata miliknya. Gadis itu menyambar kunci motor yang terletak di dalam brankas, kemudian berlari ke garasi dan mengendarai sepeda motornya menuju alamat sang penelepon. Lampu-lampu jalanan bergantian menyirami perjalanan perempuan itu.
 
Tira bergegas mengepak tas ransel berisi senjata miliknya. Gadis itu menyambar kunci motor yang terletak di dalam brankas, kemudian berlari ke garasi dan mengendarai sepeda motornya menuju alamat sang penelepon. Lampu-lampu jalanan bergantian menyirami perjalanan perempuan itu.
   
<gallery navigation="true" widths="150" captionalign="center" position="center">
+
<gallery widths="150" captionalign="center" position="center">
New era Tira & Virgo.jpg|Tira & Virgo|link=
+
New era Tira & Virgo.jpg
Prahara.jpg|Prahara|link=
+
Prahara.jpg
Patriot.jpg|Patriot
+
Tira Perkara Pertama.jpg
 
</gallery>
 
</gallery>

Revision as of 12:26, June 2, 2020

Tautan ke halaman Tira lainnya


Quote1 Apa yg harus aku lakukan lagi? ... Baiklah aku akan membuat negara ini jadi jauh lebih baik lagi. Tapi aku kan masih sangat muda, belum cocok jadi politisi apalagi jadi pemimpin negeriQuote2
― Tira[src]

Susi adalah seorang mahasiswi yang memiliki kemampuan bela diri yang hebat dan menggunakan kostumnya yang berteknologi tinggi, Susie menjadi Tira yang bersumpah untuk melawan kejahatan dan ketidakadilan.

Sejak kejadian Sembilan Pintu Naga, Tira selalu didampingi sembilan siluman naga dan mampu memanggil para sembilan siluman raksasa.

Tira: Perkara Pertama

"Aku pulang!" seru Susie sesampainya ia di rumah. Tidak ada yang menjawab. Tentu saja. Ayah dan Ibu sudah berangkat rupanya. Kini ia sendiri, lagi, di rumahnya. Jam dinding menunjukkan pukul setengah delapan malam.

Gadis itu melepas sepatu, kemudian menekan sakelar lampu ruang tamu. Sebuah lampu gantung megah menyala, menyinari ruangan luas tersebut. Ruang tamu keluarga Susie terlihat seperti sampul majalah yang sempurna. Sofa-sofanya berwarna krem,dihiasi ornamen berbentuk daun dari bahan sutra hijau halus.

Mereka disusun dengan rapi di sekitar sebuah meja kopi yang terbuat dari kaca dengan setumpuk majalah dan sebuah vas berisikan bunga mawar di atasnya Tirai yang menutupi jendela ruangan tersebut berbahan linen, berwarna putih bersih, seperti tidak pernah tersentuh oleh siapa pun atau terkotori oleh debu. Terdapat sebuah televisi LCD besar di tengah dua rak buku, di atas sebuah perapian.

Foto keluarga Susie ada yang digantung di dinding, ada juga yang dibingkai dengan bingkai foto emas yang sangat mahal. "Halo?" Tidak ada yang menjawab. Bagus, pikir Susie. Aku benar-benar sendirian. Ia mengunci pintu depan rumahnya rapat-rapat, menutup tirai semua jendela, dan memastikan tidak ada yang menjadi saksi akan apa yang hendak ia lakukan.

Gadis itu kemudian melempar ranselnya ke atas sofa dan berjalan ke arah rak buku yang terletak di sebelah kanan televisi. Susie berdiri sebentar di depan rak buku tersebut sebelum akhirnya ia menarik keluar sebuah buku bersampul kulit cokelat.

Gadis itu mundur beberapa langkah. Rak buku tersebut, seperti yang biasanya Susie lihat di film-film horor, membuka layaknya sebuah pintu dan menyingkap sebuah brankas yang tertanam di dinding di baliknya. Brankas tersebut dikunci oleh semacam sistem pengaman yang berbasis pengenalan suara. Alat pengaman tersebut berbentuk kotak dengan sebuah layar LCD yang menunjukkan frekuensi suara yang terdeteksi dan sebuah fingerprint recognizer di sampingnya.

Sebuah produk dari Thetatech, tentu saja. Benda itu mempunyai logo Thetatech yang diukir di depannya dengan serangkaian tracking number yang menunjukkan benda tersebut asli buatan perusahaan Ayah Susie. Susie tidak bisa menahan diri untuk tidak menyengir lebar.

Bagian inilah yang paling ia tunggu-tunggu di setiap hari yang ia jalani. Bagian inilah yang selalu bisa melepaskan penatnya setiap kali ia menjalani hari yang menyebalkan. Tidak peduli seberapa buruk hari yang ia jalani, tidak ada yang dapat menandingi kesenangan yang ia dapat dari menyamar menjadi seorang Tira dan memberantas kejahatan.

Susie mengambil satu langkah ke depan dan mencondongkan kepalanya ke arah brankas tersebut. "Tango. India. Romeo. Alfa," gadis itu berujar. Layar pada alat pengaman tersebut menunjukkan gelombang suara yang terdeteksi, lalu berubah menjadi warna hijau dan brankasnya pun terbuka.

Di dalam brankas, terdapat sebuah ransel berwarna hitam. Susie mengambil ransel tersebut dan merogoh saku paling depannya. Ia mengeluarkan sebuah radio kecil berbentuk persegi panjang dengan pengeras suara dan skala frekuensi dalam FM dan AM di bagian depannya.

Radio tersebut juga dilengkapi antena yang Susie modifikasi sendiri untuk mendapatkan resepsi sinyal yang lebih baik. Susie menyetel radio itu ke frekuensi yang digunakan untuk panggilan darurat ke operator di kantor pusat polisi. Ia menaik-turunkan skala, berusaha mencari frekuensi yang bisa menangkap percakapan antar penelepon dan operator.

"Halo?!" Sebuah suara terdengar dari pengeras suara. Mata Susie membelalak. Jackpot! pikirnya. Gadis itu mendekatkan radio yang ia pegang ke telinganya, berusaha menyimak dengan baik. "Kepolisian Kota. Apa keadaan darurat Anda?" tanya sang operator dari sisi lain. "Tolong, Pak. Saya mohon.

Ada tiga orang perampok yang hendak masuk ke sini. Mereka mengancam akan membunuh saya jika saya tidak membukakan pintu." Suara sang penelepon sangat pelan, hampir menyerupai bisikan panik yang disertai dengan isakan tangis. "Bu, tolong beritahu di mana lokasi Ibu sekarang."

"S-saya di Jalan Mer-merpati, Pak. No-nomor tiga belas. Bar Silver Bell," Suara sang penelepon terdengar bergetar. Sayup-sayup, Susie bisa mendengar suara pintu digedor dan suara orang yang berteriak dari luar. Suara-suara tersebut diikuti oleh desas-desus panik dari segelintir orang.

Sang operator berusaha menenangkan sang penelepon. "Baik, unit kami akan segera datang ke sana dalam jangka waktu sepuluh menit." "Saya tidak punya waktu sebanyak itu!" Isak tangis sang penelepon semakin kencang. Aku harus ke sana, pikir Susie.

Susie mengingat dengan baik alamat yang sang penelepon ucapkan. Ia meletakkan radionya di atas meja kopi. Gadis itu mengeluarkan setelan dengan bagian atas tak berlengan yang tersambung dengan celana pendek berwarna merah marun.

Setelan itu terbuat dari spandeks, lengkap dengan ikat pinggang kulit berwarna hitam yang memiliki sejumlah saku kecil. Ia juga mengeluarkan sepasang sepatu boots hitam. Gadis itu buru-buru menanggalkan seluruh pakaiannya, mengenakan setelan, ikat pinggang, dan sepatunya.3 Ia merogoh saku depan tasnya dan mengeluarkan sebuah topeng hitam.

Topeng itu berbentuk seperti kelelawar dengan dua lubang di tengahnya. Bagi Susie, topeng tersebut adalah satu-satunya hal yang membatasi antara identitas dia sebagai seorang Susie dan alter-ego dirinya sebagai seorang Tira. Dikenakannya topeng tersebut, menyelubungi daerah di sekitar mata dan pelipisnya. Susie kemudian memandangi pantulan dirinya sendiri di layar hitam televisi. Malam ini, sama seperti setiap malam lainnya, ia bukan lagi Susie.

Ia adalah Tira, sang pembela kebenaran. Tira membuka tasnya. Di dalamnya ia mendapati senjatanya telah tersusun rapi. Ada tongkat elektrik (tongkat besi yang terdiri dari pegangan dan batang berkawat). Kawatnya terlilit dengan sangat rapi pada bagian luar tongkat dan memiliki ujung tajam. Pada bagian pegangan terdapat smart lock yang hanya bisa dibuka dengan sidik jari milik Tira.

Jika smart lock dibuka, maka kawat akan langsung dialiri listrik dari dalam bagian pegangan. Dengan memencet tombol di dekat smart lock, Tira dapat menghasilkan impuls listrik sehingga listrik dapat terhantar ke udara melalui ujung kawat dan mengenai target di depan Tira.

Lalu ada sarung tangan anti panas dan listrik. Sarung tersebut dapat menangkal berbagai serangan dalam kondisi panas dan teraliri arus listrik. Berbagai pisau lipat dan benda-benda tajam lainnya juga sudah tersusun rapi. Ada juga tali rotan yang digunakan untuk mencambuk.

Tira bergegas mengepak tas ransel berisi senjata miliknya. Gadis itu menyambar kunci motor yang terletak di dalam brankas, kemudian berlari ke garasi dan mengendarai sepeda motornya menuju alamat sang penelepon. Lampu-lampu jalanan bergantian menyirami perjalanan perempuan itu.

Community content is available under CC-BY-SA unless otherwise noted.